Selasa, 30 April 2013

[GUMI] FF yang berasal dari mimpi(?) (Part 1)

A, oi minna! Apa kabar? Semoga sehat-sehat ya? Amin! ^^
Mungkin gak ada yang percaya, ya, kalau ini awalanya dari mimpi. Mungkin karena keseringan mikirin Vocaloid jadi begini deh. Ini mimpi yang aneh, mirip FF, makanya itu aku mau buat ini menjadi FF. Tapi dengan beberapa pengeditan supaya jalan ceritanya sesuai *Karena di mimpiku Rin nitip HP ke aku*. Okelah, gak usah banyak omong, mending langsung aja ye ... \ :v /
----------------------------------------------------------------------
Normal POV
Dunia ini memang sedikit kejam. Begitulah yang dikatakan Kagamine Rin dan Kagamine Len. Mereka berdua anak kembar yang ditinggal mati orang tua mereka(?). Mereka berdua memang ditinggali harta yang berlimpah oleh orang tua mereka. Tetapi mereka selalu bijak menggunakan harta itu. 

Rin dan Len sudah membebaskan beberapa budak dari istana yaitu, Luka, Gumi, Kaito dan Meiko. Mereka berempat tinggal di rumah Rin dan Len yang sangat luas untuk mereka dan mengurusi kebutuhan mereka selayaknya orang tua mereka sebagai ucapan terima kasih. 

Hari ini, Rin dan Len tidak ingin mengganggu aktifitas Luka, Gumi, Kaito dan Meiko. Mereka berdua merasa merepotkan keempatnya. Di hari minggu yang cerah ini, mereka berdua mengendap-endap pergi keluar seraya membawa uang yang cukup untuk membeli bahan untuk makan siang.

Tetereteret!!!

Semua orang di pasar itu langsung panik seketika. Pengawal istana datang mengawali rombongan kerajaan. Semua orang terpaksa bersujud karena mengenal betul kalangan bangsawan yang kejam di kota itu. Putri Miku, anak bungsu sang raja ini terkenal begitu kejam di bandingkan kakak laki-lakinya. Semua orang bersujud kecuali Rin. Rin memandang mata putri Miku kesal. Ia sangat jengkel ketika harus bersujud di depannya.

Sang putri turun dari kereta kudanya dan menghampiri Rin. Len menarik-narik rok panjang Rin agar dia ikut bersujud, namun Rin hanya diam seraya memandang mata Miku dengan kesal. Putri Miku mengembangkan senyum sinisnya dan mulai menginjak kepala Len lalu menjenggutnya sehingga Rin begitu kesal, dan Rin mendorong putri Miku jatuh kedalam kubangan lumpur.

"Tangkap dia!" perintah putri Miku. Semua rakyat biasa hanya bisa menonton kejadian itu tanpa bisa menolong Rin. Kedua pengawal berbadan kekar itu memegang tangan Rin erat-erat. 
"Lepaskan dasar putri sialan!" kata Rin yang terus memberontak.
"Rakyat jelata sialan!" balas putri Miku yang masih memperhatikan kejadian itu dengan seru.
"Lepaskan dia!" teriak seorang anak laki-laki, dia Len. "Aku yang berasalah karena tidak bisa mengajarkan sopan santun pada Rin. Aku saudara kembarnya, apa aku tidak cukup mirip dengannya?"
"Len!" teriak Rin.
"Oke, lepaskan anak perempuan yang cengeng itu dan tangkap saudaranya!" perintah putri Miku. Kedua pengawal yang sedari tadi memegang tangan Rin melemparkan Rin dengan sangat keras dan mulai menahan Len.

Rin POV

Aku sadar betapa bodohnya aku.  Aku sudah membuat Len di tangkap. Dengan segera, aku langsung berlari ke arah putri Miku yang tertawa sambil menjenggut ikatan rambut Len sampai pengikatnya putus dan Len hanya bisa meringis kecil. Namun saat aku hendak menyentuh pundak putri Miku pengawalnya langsung menahanku dari belakang. Akhirnya aku hanya bisa menangis sambil berteriak.

"Dasar putri sialan! Dasar putri bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku ingin bertanya padamu, apa yang di ajarkan gurumu di istana? Hah? Jawab aku bodoh! Kenapa kau mempercayai semua ucapannya? Aku yang bersalah! Apa kau tidak melihat kalau aku yang mencoba menantangmu?" teriakku sambil terisak. Air mataku mengalir begitu deras.
"Aku tau," kata putri Miku meremehkanku. "Tapi aku akan menjadikannya mainan, dia terlihat lebih menarik."
"Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu menjadikannya budak! Suatu hari nanti aku akan menghancurkan kerajaan itu!" ujarku dengan penuh keyakinan. Namun putri Miku terus tersenyum sinis padaku.
"Kalau begitu..," kata putri Miku seraya berpikir. "Aku akan menjatuhkan hukuman mati padanya, hm? Bagaimana?" 

Aku hanya bisa terdiam. Air mataku masih terus mengalir, namun gerakan terhenti seketika. Pengawal itu melepaskan pengangan eratnya lalu pergi di belakang putri Miku. Dia naik ke kereta kudanya yang berlapis emas di beberapa bagian itu. Aku terduduk lemas di tanah, semua orang membicarakan kami. Aku hanya bisa menangis dan memukuli tanah. Lalu Luka datang dengan panik seraya memegangi pundakku agar aku tetap tenang. Aku terus berkata Luka begitu bodoh karena dia menyuruhku tenang, sedangkan len akan segera menemui ajalnya dengan cara yang tidak biasa. Dihukum mati. Kata itu terus mengiang di kepalaku, begitu mengganggu. Aku di ajak pulang ke rumah dan aku hanya mengikutinya.

Len POV

Kurasa yang kulakukan sudah cukup. Aku akan menyelamatkan Rin bagaimana pun caranya. Karena orang tuaku sudah tidak ada, hanya Rin keluarga yang kupunya. Tentu saja aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya, karena aku juga merasa sakit melihatnya. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan untuk membebaskan diriku-sendiri agar terhindar dari hukuman mati.

"Manisnya!" ujar putri Miku yang sangat kejam. Dia memakan gula-gula itu dengan santainya. 

Dan kami sampai di istana ....

Bersambung ....

~*GUMI*~

Minggu, 21 April 2013

[IA] Thanks my Senior! [part 2]

yaah.. ini part 2 ny....
maap lama bgt soalny jadwal menumpuk(?) :v //plak
oke monggo dibaca,mksih =w=





(Lenka) My Love

Normal Pov

"Hey Rin apakah kau tidak bosan terus-terusan memandang handphone'mu seperti itu? "Tanya seorang perempuan dengan rambut berwarna Hijau tosca dengan model rambut TwinTail
"Aku hanya kesal Miku, hari ini dia tidak menghubungiku lagi "Jawab Perempuan Yang bernama Rin itu dengan Raut wajah kecewa
"Mungkin Dia hanya sibuk Rin, Kau Taulah Mikuo Itu Orang yang sangat sibuk" Kata Miku
"Baiklah Miku, Kalau begitu aku pergi dulu dan juga aku sudah tak ada jam menyiar lagi" Ucap Rindan segera pergi.
"Baik-baiklah dijalan Rin" Teriak Miku

Rin Pov

"Hei Hime"Panggil seseorang yang sangat kukenal.
"Ada apa Mikuo" tanyaku dengan wajah bosan

Rabu, 17 April 2013

[Galaco] Karakuri Burst ~Chapter 3

Belom sampe 24 jam, tapi fict ini sudah selesai dan Yuezheng memaksaku untuk segera mem-postnya =w= Jadi, well. Aku ga bisa nolak kalau sudah Yuezheng yang minta

*warning : Chapter ini juga panjang seperti Chapter 2. Cuman, lebih absurd dan gaje

 
Karakuri Burst
Story by Galaco
All character belong to the respective owner

Pagi, Yuezhe!”sapa Mrs. Bells ketika Yuezhe dan Galaco sampai di ruang utama inn yang juga merupakan pub. Yuezhe dan Galaco menunjukkan tatapan bersahabat. Terutama Galaco. Wajahnya tak lagi sedingin hari pertamanya.

Tanpa sengaja, pandangan Yuezhe dan Galaco mendapati dua orang pemua yang sedang duduk semeja di salah satu meja di dekat pintu. Satunya berambut hitam-keunguan, sedangkan yang lain berambut teal. Sama-sama pendek, rambut mereka.

Atasan kalian. Cepat datangi!”perintah Mrs. Bells. Galaco menarik tangan Yuezhe. “Usahakan kau tak menunjukkan sikap canggungmu, Yue.”ingat Galaco. Yuezhe mengangguk ragu.

Selamat pagi, Letnan.”sapa Galaco memulai pembicaraan. “Bolehkah kami duduk disini?”tanya Galaco, mengingat 2 kursi kosong tersedia, dan berhadap-hadapan dengan kedua Letnan terkenal itu. “Silahkan, Miss.”ujar si rambut teal, Mikuo Chamberline. Galaco tersenyum dan duduk berhadap-hadapan Mikuo, sementara Yuezhe duduk berhadap-hadapan dengan Taito.

Kapan anda datang, Letnan?”tanya Galaco sopan. Si rambut hitam-keunguan yang dapat dipastikan adalah keluarga Shion, atau tepatnya, Taito Shion, menjawab, “Tadi malam, miss. Tepat pada pukul 11.” Galaco tersenyum tipis. Sementara Yuezhe sibuk dengan sarapannya. “Aku yakin bahwa kalian adalah Miss Tranquillia dan Miss Yueliang. Apakah aku salah?”tanya Mikuo. “Anda benar, Letnan. Tapi, saya merasa lebih enak bila Letnan memanggil kami dengan nama panggilan kami saja.”pinta Galaco hangat. “Baik-baik. Aku akan memanggil kalian nama depan kalian.”ujar Taito santai. Meski dia sedikit bingung.

Saya Galaxias Tranquillia, Letnan. Saya percaya bahwa Jendral Kuroneko sudah memberitahu anda tentang saya. Anda bisa memanggil saya Galaco atau Gal.”terang Galaco. “Saya Yuezhe Yueliang. Teman-teman saya biasa memanggil saya Yue. Anda bisa memanggil saya apapun yang anda inginkan.”sambung Yuezhe. Kelihatannya, dia mati-matian menjaga ke-tegangannya.

Nama yang indah.”puji Mikuo hangat. Tersungging sebuah senyuman di bibirnya. “Kehormatan bagi kami, Letnan.”sahut Galaco. Yuezhe hanya tersenyum simpul. “Jendral Kuroneko bilang, kalian masih berumur 15 tahun dan sama-sama diasuh oleh Batalyon. Apa itu benar?”tanya Mikuo. Yuezhe nampak sibuk dengan minumannya. Menandakan ia meminta Galaco saja yang bercerita.

Benar, Letnan. Saya dan Yue...” Galaco akhirnya menceritakan asal-usul mereka secara rinci pada Mikuo. Karena Galaco percaya pada Mikuo.

Oh... Aku mengerti.”komentar Mikuo. Galaco tersenyum simpul. Sepertinya, dia banyak tersenyum pagi ini. “Letnan, apakah anda sudah sarapan?”tanya Galaco saat melihat tak ada satupun piring di hadapan Mikuo maupun Taito.

Sudah. Kami sudah makan dari tadi.”jawab Mikuo mewakili Taito dan dirinya sendiri. “Kau sendiri tidak makan?”tanya Mikuo. Galaco tersenyum. “Tak apa, Letnan. Saya belum lapar.”jawab Galaco. Dia berbohong, sih. Sebenarnya, perutnya sudah keroncongan tingkat ndewo.

Namun, Mrs. Bells menyadari wajah Galaco yang menahan lapar. Ia tersenyum dan segera menyiapkan semangkuk sup hangat untuk gadis berambut aneh itu.

Sarapan, Tranquillia. Kau bisa mati kelaparan!”nasihat Mrs. Bells sambil menghidangkan semangkuk sup pada Galaco. Galaco langsung salah tingkah. “M-Mrs. T-tapi, saya tidak lapar...”kilah Galaco pelan. Mrs. Bells tersenyum. “Aku tahu kau lapar, dear. Makanlah.”ujarnya sambil berlalu.

P-Permisi, Letnan.”ijin Galaco. Mikuo dan Taito nampak menahan tawanya. Mereka hanya tersenyum. Galaco memulai menciduk dan mengkonsumsi sup yang bisa dibilang so delicious itu.

Kau terlalu sopan, Gal.”celetuk Mikuo. Galaco hanya merunduk. Betapa malu rasanya. Untung, Yuezhe menyadari posisi sohibnya. “Letnan, apa Jendral Kuroneko mengirim anda kesini?”tanya Yuezhe. Mikuo tersenyum. “Ya. Well, sebenarnya, aku memaksanya agar bisa cepat kesini.”terang Mikuo. “Anda tak perlu mengkhawatirkan keadaan kami, Letnan.”sela Yuezhe lembut.

Aku percaya kalian baik-baik saja. Tapi, aku hanya ingin memastikan kalian benar-benar baik.”kilah Mikuo. 'Orang ini pemaksa banget.'komentar Galaco yang menyantap supnya. “Yuezhe, Galaco, kurasa kita harus memeriksa keadaan kota di pagi hari.”usul Taito. Galaco meletakkan sendoknya di mangkuk, tanda ia sudah kelar memakan sarapan yang diinginkannya. “Saya setuju, Letnan. Saya dan Yuezhe akan kembali 5 menit lagi.”sahut Galaco. Ia menarik Yuezhe dan membawanya ke kamar untuk mengganti baju dan membersihkan diri.

Hei, tidakkah kau merasa bahwa kedua gadis itu berbeda?”tanya Taito saat dua orang yang dimaksud sudah kabur ke kamar. “Sangat berbeda, ya. Keduanya tak se-kaku orang lain.”jawab Mikuo. “Benar.”desis Taito.
-**-
Hey, man. Apa yang kau rasakan sekarang?”tanya Galaco saat berjalan di sebelah Yuezhe. “Senang. Tegang. Deg-degan.”jawab Yuezhe sambil meremas roknya. Galaco terkikik. “Umpamakan saja, mereka itu orang biasa. Bukan Letnan atau orang yang kau idolakan. Modifikasi pikiranmu.”usul Galaco. Yuezhe menatap sahabatnya. “Jadi, itu yang kau lakukan, sampai-sampai kau terlihat sebagai sahabat terdekatnya yang merupakan bawahannya?”tanya Yuezhe tak percaya. Galaco tersenyum. “Tentu, kawan.”

DOR!

Sebuah suara tembakan terdengar. Galaco dan Yuezhe langsung berlari menuju sumber suara dengan tangan yang sudah dipersenjatai. Mikuo dan Taito mengejar kedua gadis yang mereka anggap berbeda itu.

Benar saja, Galaco dan Yuezhe berdiri di hadapan sebuah mayat yang bersimbah darah. Galaco dengan cepat mengambil peluru yang terbasahi darah di tanah. Ia melihat sebuah simbol yang sangat ia kenal. Orang-orang menatap Galaco, Yuezhe, Mikuo, Taito, dan mayat itu dengan tatapan ngeri. “Karakuri Eyes.”desis Galaco.

Lagi, sebuah peluru mengarah ke salah satu dari mereka. Yuezhe Yueliang jadi sasaran kali ini. Beruntung, Galaco sadar dan segera mendorong Yuezhe, sehingga Yuezhe jatuh dan peluru itu mengenai dinding. Pandangan Yuezhe sempat menangkap sebuah bayangan yang memegang senjata api di atas sebuah bangunan. Ia segera melempar belati yang selalu dibawanya.

Belati itu mengenai tangan sang bayangan. Bayangan itu segera berlari menyelamatkan diri. “Yue! Kau tak apa?!”tanya Galaco panik. “Aku baik-baik saja.”jawab Yuezhe. “Galaco! Yuezhe! Apa kalian baik-baik saja?!”tanya Mikuo.

Yuezhe mengangguk. Galaco menyembunyikan tangannya yang terluka, dia tersenyum. “Kami baik-baik saja, Letnan.”jawab Galaco. Padahal, jelas-jelas tangan kirinya tertembus peluru yang ditujukan untuk Yuezhe.

Galaco, tanganmu!”celetuk Mikuo. Galaco menyembunyikan tangannya rapat-rapat. “Tergores ujung Uzzi-ku.”kilah Galaco. 'Ini anak mau ditolongin malah nolak.'gerutu Yuezhe dalam hati. Ya, dia tau jelas bila Galaco tak mau seorangpun merasa khawatir karenanya. Dia sudah terbiasa akan sifat sahabatnya itu, meski terkadang merasa tak enak.
-**-
Maaf membuatmu terluka, Galaco.”gumam Mikuo dengan nada bersalah. Dapat dilihat bila ia sedang membungkus luka Galaco dengan perban. “Tak apa—AW!”jerit Galaco saat Mikuo melanjutkan aktifitasnya. “Maaf.”ujar Mikuo lagi. Ia mengikat kedua ujung perban yang ia pakai untuk menutup luka Galaco.

Terima kasih, Letnan.”ucap Galaco. Ia, Mikuo, Taito, dan Yuezhe berdiri dari duduk. Mikuo sedikit membungkukkan badan untuk berbicara dengan Galaco. Secara, Mikuo tingginya 179 cm, sedangkan Galaco hanya 152 cm. “Maaf untuk hari ini, Galaco.”ulang Mikuo. Galaco menggeleng. “Tak apa, Letnan.”

Kau ini, kenapa harus melukai dirimu sendiri, sih?!”tanya Yuezhe saat Mikuo dan Taito sudah keluar dari kamar keduanya. “Sudah kubilang. Aku tak ingin kau terluka.”jawab Galaco santai. Seolah dia tak terkena apapun. “Tapi kau tak perlu sampai membuat tanganmu tertembak, mengerti?! Peluru Karakuri Eyes adalah peluru paling bahaya sepanjang masa!”ingat Yuezhe. Galaco tertawa.

Apa peduliku?”tanya Galaco meremehkan. Ia melihat kearah jam, mendapati sekarang pukul setengah 12. Yuezhe menghela nafas melihat sahabatnya. “Kau bukan manusia super, kawan.”bisik Yuezhe. “Kau bisa mati kapan saja.”sambung Yuezhe. “Tapi aku tak akan mati sia-sia. Karena aku mati demi melindungi sahabatku.”tukas Galaco. “Sudahlah, aku lapar. Ayo.”potong Yuezhe. Ia dan Galaco turun kebawah untuk makan siang.

Silahkan,”ujar Mrs. Bells sambil menghidangkan makan siang kali itu, Curry Noodles. Mengingat langit mulai menitikkan air hujan. “Mrs., Bolehkah saya bertanya?”tanya Galaco. “Tentu, dear. Tanyakan saja.”jawab Mrs. Bells. “Mengapa anda begitu baik, hingga mau melayani kami?”tanya Galaco. Mrs. Bells menghela nafas. Dia duduk di sebelah Yuezhe dan mulai menceritakan sesuatu.

Ternyata, Mrs. Bells adalah orang yang pertama kali menemukan Yuezhe saat Yuezhe dikirim ke Jerman. Bukan polisi Batalyon KBF yang sedang berpatroli. Mrs. Bells juga merupakan sahabat dari Ibu Yuezhe, Yayin Gongyu—Yayin Miangxing. Ia merawat Yuezhe beberapa hari, sebelum akhirnya memenuhi keinginan Yuezhe, yaitu menyerahkan Yuezhe ke Batalyon KBF. Dulu, Yuezhe terkejut sekali, saat mendengar Ayahnya adalah seorang anggota Kepolisian Cina. Jadi, dia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan ayahnya, dan mendesak Mrs. Bells agar mengirimnya ke Batalyon KBF yang sangat terkenal. Selain itu, Mrs. Bells bersikap begitu lembut karena mata Yuezhe mengingatkannya pada Ibu Yuezhe yang sudah meninggal. Dan perlu diketahui, orang tua Yuezhe meninggal saat ada penyergapan dari Karakuri Eyes.

Mrs. Bells, maaf. Aku tak bermaksud...”ujar Galaco menyesal. “Tak apa, Tranquillia. Aku tau kau penasaran.”sergah Mrs. Bells. Galaco menunduk, tanda ia menyesal. Yuezhe meneguk Orange Shake-nya. “Jangan menyesal, man. Itu masa laluku.”ujar Yuezhe sambil menepuk bahu Galaco. “Bagaimana denganmu, Tranquillia?”tanya Mrs. Bells. Galaco menarik nafas dalam-dalam.

16 September 1983, adalah ulang tahun ke 9 seorang Galaccious von Scharzigartie yang merupakan putri tunggal Lord Scharzigartie. Pada saat itu, Manor Scharzigartie dibakar oleh pihak tak bertanggung jawab. Lord Scharzigartie dan Lady Scharzigartie dibunuh oleh seseorang bertudung hitam. Galaccious sendiri, waktu itu berinisiatif untuk bersembunyi di dalam lemari yang ada di kamarnya. Ia menahan nafas saat mendengar langkah kaki. Namun, usahanya sia-sia saat seseorang membuka pintu lemari dan memukulnya dan membuatnya pingsan. Saat ia sadar, ia mendapati dirinya ada di sebuah ruangan putih.

Galaco terdiam sejenak, dia sangat enggan melanjutkan ceritanya. Setelah meminta izin, dia memotong apa yang terjadi padanya di ruangan putih itu dan langsung menceritakan bagaimana ia bertemu Jendral Kuroneko yang saat itu masih berpangkat Letnan Jendral. Ia bertemu dengannya saat beberapa orang memukulinya di jalan. Waktu itu, Jendral Kuroneko menyelamatkannya dan menawarkannya untuk masuk ke dunia kepolisian. Galaco langsung menerimanya. Jendral Kuroneko membawanya ke Batalyon dan memberinya sebuah nama baru, yaitu Galaxias Tranquillia.

Oh ya ampun, dear...”desis Mrs. Bells dengan nada iba. Galaco hanya tersenyum miris. “Apa kau tau siapa yang memukulmu waktu itu?”tanya Yuezhe. Dia tak menyangka, ternyata, masa lalu Galaco lebih buruk daripada yang ia bayangkan. Galaco mengangguk kecil. “Seseorang dari Karakuri Eyes. Aku ingat, orang-orang memanggilnya Zatsune, Zatsy, atau CODE;BLACK.”terang Galaco. Yuezhe kaget. Zatsune BLACK adalah orang yang membantai keluarganya.
-**-
Hei, Gal.”panggil Yuezhe saat ia dan Galaco tiduran di kasur. “Apa?”tanya Galaco. Sepertinya, ia sudah melupakan luka di tangan kirinya. “Kurasa... Letnan Shion lebih gahol daripada Letnan Chamberline.”gumam Yuezhe. Galaco tersenyum dan melemparkan sebuah bantal kearah sahabatnya itu dengan tangan kanannya. “Kau ini. Seperti kataku, jika kau cinta dia, kau harus berusaha memilikinya~”sahut Galaco. Yuezhe menenggelamkan wajahnya ke bantal yang tadi dilempar Galaco. “Ini memalukan!”ujar Yuezhe.

Galaco langsung cemberut. “Yang mulai duluan siapa, coba?”tanya Galaco. Yuezhe terlentang sambil menutup wajahnya dengan bantal. Ia berguling-guling kekanan dan kekiri di kasur. “Aku tauuuuuu!!! Tapi ini memalukaaaan!!!”seru Yuezhe. Mari kita lewatkan bagian dimana Galaco sibuk koprol di kasurnya sendiri.

Tak kusangka, kau ternyata bisa seperti itu juga, Yue.”
To be continued...

Benar, kan, jelek? Gaje banget =w=

Ahh~ Chapter 4 segera dataang~
Tunggu, ya!

Mata ashita!

♪Galaco!♪

[Galaco] Karakuri Burst ~Chapter 2

Ohayo, Minna!

Galaco kembali lagi dengan fict Galaco, Karakuri Burst ver. KBF! Chapter 2 datang!
Sebelumnya, terima kasih untuk commentnya, Rin-san! >v<
*warning : Chapter ini adalah chapter yang cukup panjang

Karakuri Burst
Story by Galaco
All character belong to the respective owner

Akhirnya, Yuezhe dan Galaco sukses sampai di pusat Copenhagen teapt pukul 10. Salahkan saja kereta gantung yang tadi sempat macet di tengah jalan. Beruntungnya, tak seorangpun mengetahui identitas asli mereka. Yuezhe menyamar sebagai Luo Byoguan Lin dan Galaco menyamar sebagai Stellar Pruedence. Mereka mengaku sebagai bule asal Cina dan Amerika.

Entah apa yang sedang dipikirkan Galaco saat melihat sebuah cafe. Yang jelas, dia menarik tangan Yuezhe dan membawanya masuk kesana. Padahal, Galaco tau bila kurang dari 4 jam lalu, dia sudah makan sarapan di Batalyon KBF. Gadis ini sepertinya mudah lapar, meski tubuhnya tetap tergolong kecil dan lumayan pendek.

Gal! Apa yang kau lakukan?!”bisik Yuezhe kesal. Galaco hanya tersenyum. “Aku tau, kau suka kopi. Dan ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.”sahut Galaco santai. Yuezhe menghela nafas pelan. Tak dapat dipungkiri, ia tersenyum kecil melihat kelakuan sahabat yang selalu ada untuknya itu.

Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”tanya Yuezhe. Ia menunggu Galaco yang sedang meneguk Moccachino yang dipesannya. “Sebenarnya, ini hanya untuk menghilangkan tatapan aneh dari para polisi.”tutur Galaco. Yuezhe menggerutu kesal. “Tapi, ada suatu hal yang sangat ingin kusampaikan.”sela Galaco. Yuezhe menatap sohib bin partnernya itu penasaran.

Kau tau Mikuo Chamberline?”tanya Galaco. Yuezhe tentu mengangguk. Siapa, sih, yang tidak kenal partner Shion Taito yang kabarnya sangat keren dan handal dalam masalah stalking dan investigasi itu? “Letnan Chamberline? Tentu saja. Dia atasan kita, kan?”tukas Yuezhe. Mikuo memang atasan Yuezhe dan Galaco. Karena Mikuo berpangkat Letnan, sementara Yuezhe dan Galaco berpangkat Kopral.

Kudengar, dia akan membantu kita menyelesaikan misi ini.”sahut Galaco. Ia kembali meneguk Moccachinonya. Yuezhe kaget. “Serius?!”tanya Yuezhe sanksi. Galaco tersenyum dan mengangguk. “Aku tak pernah berbohong padamu, kawan.”tanggap Galaco. Yuezhe langsung melonjak karena kesenangan sekali.

Lihat siapa yang berbahagia.”gumam Galaco. Ia menyunggingkan sebuah senyum melihat sahabatnya itu tergirang-girang akan berita yang dibawanya. Namun, ia tak tau mengapa. Tiba-tiba, sebuah perasaan sakit mengisi relung hatinya. 'Ah, itu hanya perasaanku saja.'kilah Galaco dalam hati.
-**-
Sekarang, kita mau kemana?”tanya Yuezhe. Ia tau, jika dalam sebuah misi, Galaco akan menjadi serius dan menghilangkan sifat konyol yang selalu tampak di luar pekerjaan mereka. Tak lupa, selama misi apapun, Galaco-lah yang memimpin mereka berdua. Karena bila sudah serius, pikiran Galaco akan sangat maju. Berkebalikan dengan pemikirannya di luar tugas.“Kita menginap beberapa hari. Kita lihat apa yang terjadi selama kita disini.”jawab Galaco dengan suara pelan. Yuezhe mengangguk setuju. “Aku kenal seseorang yang mempunyai inn dan pub dalam satu tempat.”sela Yuezhe. Galaco menoleh. “Siapa?”tanyanya penasaran. “Prima Bells.”jawab Yuezhe sambil menyeringai.

Suara lonceng terdengar ketika Yuezhe membuka pintu inn yang kupikir diberi nama 'Bells Inner Inn'. “Selamat datang—“

Halo, Mrs. Bells.”sapa Yuezhe memotong ucapan selamat datang dari seorang wanita paruh baya yang berambut abu-abu gelap. “Oh, ya ampun! Yuezhe! Aku tak menyangka kau akan datang kemari!”seru wanita itu sambil mendekati Yuezhe dan memeluknya. “Aku ada tugas dari Batalyon, Mrs. Jadi, bolehkah aku dan temanku menginap di sini?”terang dan tanya Yuezhe. “Tentu saja, sayang.”jawab wanita yang dipanggil 'Mrs. Bells' itu. Ia melepas pelukannya dengan Yuezhe dan berpaling pada gadis muda yang berdiri tegap di sebelah Yuezhe. Gadis itu tingginya sama dengan Yuezhe. Paling-paling, hanya berbeda beberapa senti. Wajahnya terlihat dingin, namun, sebuah senyum lembut terpampang di bibirnya yang berwarna merah pucat.

Ini temanku, Mrs.”jelas Yuezhe. 'Mrs. Bells' tersenyum dan saling berjabat tangan dengan Galaco. “Galaxias Tranquillia, Mrs. Senang bisa bertemu dengan anda.”ucap Galaco sopan. Senyum lembut masih melekat di bibirnya. “Aku Prima Bells. Pemilik tempat ini. Kau bisa memanggilku Mrs. Bells, dear. Senang bisa bertemu denganmu juga.”sahut Mrs. Bells.

Galaco hanya tersenyum manis. “Oh! Kalian pasti lelah! Mari kutunjukkan kamar kalian!”seru Mrs. Bells sambil menarik Yuezhe dan menaiki tangga. Ia mengantar Yuezhe dan Galaco ke kamar yang akan mereka tempati beberapa hari.

Kuharap kalian nyaman menginap dalam satu kamar, dear.”jelas Mrs. Bells. “Ini adalah kamar yang tersisa.”lanjutnya dengan nada menyesal. “Ah! Tidak apa, Mrs.! Di Batalyon, aku sekamar dengannya.”kilah Yuezhe sopan. Mrs. Bells tersenyum lega. “Makan sore akan tersedia pada pukul setengah 4. Jangan sampai kau melewatkannya!”pesan Mrs. Bells sebelum ia menyerahkan kunci pada Yuezhe dan beranjak pergi.

Kita sekamar lagi, Yue. Lagi.”celetuk Galaco, menekankan kata terakhirnya. Yuezhe hanya menghela nafas. “Bagaimana lagi? Ini kamar terakhir.”desahnya. “Hei, ini pukul berapa?”tanya Galaco mengalihkan topik pembicaraan. Yuezhe menengok jam dinding yang terpasang di ujung koridor. “Pukul 11.”jawab Yuezhe. “Kita masih punya waktu sebelum waktu makan. Ayo.”ajak Galaco membuka kunci kamar dan membukanya. Ia dan Yuezhe memasukinya beriringan.

Kamar ini luas sekali.”gumam Galaco saat melihat kamar yang akan ditempatinya cukup luas. Berisikan dua kasur terpisah, rak buku, lemari, dan sebuah meja untuk dua orang yang terdapat sebuah vas berisi bunga lili diatasnya. Di lantai, karpet berwarna merah maroon yang matching dengan warna dinding tergelar elegan.

Ayo kita bereskan, Gal. Aku lelah.”bisik Yuezhe. Galaco tersadar dan membantu Yuezhe menata barang-barang mereka. Galaco tak sadar, bila seseorang dari jendela luar sibuk memperhatikannya.
-**-
Mrs., kurasa, kamar disebelahku kosong. Apa ada yang memesannya?”tanya Yuezhe saat makan sore. Mrs. Bells yang menemani Galaco dan Yuezhe mengangguk. “Seseorang dengan nama Chamberline dan Shion.”sahut Mrs. Bells. Yuezhe langsung terbelalak kaget.

Ah, ternyata, Jendral Kuroneko benar-benar melakukannya.”gumam Galaco. Ia mati-matian menjaga tawanya yang hampir meledak saat melihat ekspresi sohibnya itu. Mrs. Bells menatap Galaco dan Yuezhe dengan tatapan bingung. “Kau kenal mereka?”tanya Mrs. Bells.

Permisi, Mrs. Mereka berdua adalah atasan kami yang terkenal sangat handal dalam apapun. Terlebih lagi, Letnan Chamberline. Ia sangat terkenal dengan ke-kerenan dan ke-tampanannya. Yuezhe mengidolakannya.”terang Galaco halus. Mrs. Bells tersenyum kecil. “Tak kusangka. Putri dari Mrs. Miangxing—maksudku, Yueliang, bisa mengidolakan seseorang.”celetuk Mrs. Bells. Galaco tak dapat menahan tawanya. Dia tertawa pelan, berusaha untuk tidak menyinggung perasaan Yuezhe.
-**-
Yue, sudah pukul setengah 5. Apa kau mau jalan-jalan?”tawar Galaco. Yuezhe menoleh. “Tentu,Gal.”desisnya. Galaco dan Yuezhe mengganti baju. Tak sampai 5 menit, keduanya sudah di luar.

Aku tak percaya, bahwa kau adalah sohibku.”celetuk Galaco disaat keduanya sedang berada di pinggir jalan. “Kau kira aku percaya?”tanya Yuezhe balik. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. “Dulu, aku begitu membencimu karena kau menyebalkan. Tak kusangka, kau sekarang adalah sahabat sekaligus partnerku.”timpal Galaco. Keduanya tergelak.

Kau tau, kupikir, aku mulai tertarik pada Letnan Chamberline.”sela Yuezhe. Tersirat rasa malu di kalimatnya barusan. “Ya Tuhan. Kau bahkan belum melihat wajahnya.”tegur Galaco. “—melalui sikapnya, maksudku.”ralat Yuezhe. Galaco tersenyum. Sebuah rangkulan ia tujukan pada sohib forever-nya itu. “Jika kau mencintai seseorang, pertaruhkan apa yang kau punya. Karena cinta itu harus memiliki.”bisik Galaco tepat di telinga Yuezhe. Yuezhe hanya terdiam. Pikirannya dipenuhi oleh nama 'Letnan Mikuo Chamberline'. Galaco memandangi sahabatnya sambil menahan perasaan aneh yang tiba-tiba tumbuh di relung hatinya. Perasaan yang sama ketika ia melihat reaksi Yuezhe pada berita mengenai Letnan Chamberline. 'Aku hanya berhalusinasi.'sergah Galaco.

Tiba-tiba, sebuah peluru mengarah ke kepala Galaco dan Yuezhe. Untungnya, pendengaran tajam mereka dapat menangkapnya, sehingga, keduanya dapat merunduk untuk menyelamatkan diri.

Galaco menarik Mini-Uzzi kesayangannya dari bagian belakang rok yang dipakainya. Kedua tangannya sudah dipersenjatai dengan benda berwarna hitam yang mematikan itu. Matanya berkilat, menandakan ia menunjukkan sisi pembunuh dan serius yang ia miliki. Ia mencari darimana asal peluru nyasar itu.

Sementara itu, Yuezhe menarik sebuah belati kecil yang sealu dibawanya di saku celananya, sama seperti Galaco. Matanya juga berkilat tajam. Ia mencari penembak itu. Tapi tak berhasil.

Pandangan mata Galaco sedikit meredup. Ia mengambil peluru tadi dan menelitinya. “Peluru Karakuri Eyes.”ungkap Galaco saat mendapati sebuah tanda yang melambangkan organisasi Karakuri Eyes. Seketika, ia mengingat salah seorang penembak handal dari Karakuri Eyes, Harushirayuki Saeva (Haru Misora) yang berhasil membunuh Piko.

Yang membuat Galaco tak habis pikir, kenapa bisa-bisanya, Harushirayuki Saeva, adalah adik kandung Lienka Saeva (Lenka Kagamine) yang mengganti namanya menjadi Lenka Flavien. Perlu diketahui, Lenka Flavien adalah Wakil dari Jendral Kuroneko.

Mereka sudah mulai bergerak. Kuharap, Letnan Chamberline akan segera datang.”gumam Galaco. Yuezhe sejenak memandang sahabatnya itu. Lalu, ia mengangguk setuju. “Dan suatu hari nanti, aku akan menamparmu keras-keras, Harushirayuki Saeva.”desis Galaco pelan.
-**-
Tak sampai 24 jam, Jendral Kuroneko sudah mengetahui serangan mendadak Karakuri eyes yang ditujukan pada duo-partner andalannya itu. (Meski ia lebih mengandalkan Mikuo dan Taito, sih.)Ia langsung memerintahkan Mikuo dan Taito untuk berangkat ke pusat Copenhagen. Ia tak mau Yuezhe dan Galaco mati dalam penyerangan tiba-tiba.

Sementara itu, Mikuo dan Taito datang di pusat Copenhagen, tepatnya Bells Inner Inn, pada pukul 11 malam. Mrs. Bells sudah menunggu keduanya. “Aku sudah menduga Kuroneko akan mengirimmu se-segera mungkin. Ayo, kutunjukkan kamar kalian!”ajak Mrs. Bells.

Mungkin, hanya sedikit sekali orang yang tau. Tapi, Mrs. Bells adalah bibi dari Jendral Kuroneko. Hampir tak ada orang yang tau nama asli Jendral Kuroneko. Noir Immeria. Itu nama asli dan lengkap Jendral Kuroneko. Ia dipanggil 'Kuroneko' karena kecintaannya pada kucing berwarna hitam yang dalam bahasa Jepang disebut Kuro Neko.

Aku berharap Miss Tranquillia dan Miss Yueliang baik-baik saja.”gumam Mikuo. Taito menatap partnernya itu dengan tatapan aneh. “Tak biasanya kau memperhatikan keselamatan orang lain. Ada apa denganmu?”tanya Taito. “Mereka tanggung jawab kita, Taito. Maksudku, kau tak ingat perkataan Jendral Kuroneko? Beliau menyuruh kita untuk menjaga mereka, bodoh!”jawab Mikuo dengan nada tinggi. Terdengar kalau dia sangat khawatir. Taito tersenyum. “Aku tahu, Aku tahu.”sahut Taito. Nadanya tetap tenang.

Kurasa, ulang tahunku yang ke-16 akan berlangsung tak terlalu meriah.”celetuk Yuezhe tiba-tiba. Tepat, baik Yuezhe dan Galaco sama-sama berumur 15 tahun sekarang. Mereka lahir di tahun yang sama. Hanya berbeda bulan. Galaco pada bulan September, dan Yuezhe pada bulan Oktober.

Sobat, ini masih pertengahan Januari. Ulang tahunmu masih lama. Masih banyak waktu untuk mempersiapkan kemeriahannya.”ingat Galaco. Yuezhe menggeleng. “Bukan begitu, Gal. Perasaanku mengatakan, di ulang tahunku yang ke 16 itu... Hanya sedikit yang tersisa.”sahut Yuezhe pelan. Galaco menghela nafas. Ia menghentikan aktifitasnya, membaca dan duduk di depan sahabatnya yang kini sedang bersila di kasur itu. Kedua tangannya terjulur kearah bahu Yuezhe. Jemari lentiknya menggenggam ujung dari sepasang bahu milik Yuezhe.

Yuezhe Yueliang, dengar. Aku tak ingin lebih banyak orang yang menghilang dalam hidupku. Aku akan mempertahankan mereka, meski aku harus mengorbankan diriku, mengerti? Aku tak ingin kau tak bisa merayakan ulang tahunmu yang ke-16. Aku tak ingin melihatmu tergeletak tanpa nyawa. Aku ingin melihatmu berjalan di impianmu!”tegas gadis yang menyandang panggilan 'Galatic Princess' itu. “Gal, aku tak ingin kehilanganmu! Aku tak mungkin sanggup hidup tanpa seseorang yang selalu ada di sisiku!”sergah Yuezhe. Pandangan mata Galaco sedikit melembut. “Masih ada Jendral Kuroneko dan Mrs. Bells, Yue.”ingat Galaco. “Tapi mereka beda denganmu!”kilah Yuezhe. Pandangan Galaco menjadi lembut sekali. “Aku ingin kau terus hidup, Yue. Kau pikir, aku akan membiarkanmu tertusuk pisau MEIKO? Tidak, tidak. Kau harus melanjutkan hidupmu. Aku tak akan membiarkanmu mati. Aku tak akan membiarkan seorangpun menyentuh kulitmu, kecuali itu adalah orang baik. Aku akan melindungimu, Yuezhe.”sanggah Galaco.

Berjanjilah padaku, Gal.”ucap Yuezhe lirih. “Berjanjilah bahwa kau akan ada disampingku saat aku meniup lilin ulang tahunku.”lanjutnya. Galaco tersenyum. Ia mengaitkan jari kelingkingnya. “Baik, Aku berjanji. Tapi kau juga harus berjanji padaku.”sela Galaco. “Apapun itu.”sahut Yuezhe. “Kau harus tetap tersenyum, meski apa yang menimpamu adalah hal yang buruk. Kau harus kuat. Kau tak boleh sekalipun menangis. Kau hanya boleh menangis bila kau benar-benar membutuhkannya. Kau harus tetap berjalan di atas impianmu. Kau harus menjadi orang hebat.”ulas Galaco. Yuezhe menatap wajah Galaco. Ia merasa hatinya tak rela untuk berjanji. Tapi, takdir berkata lain. “Aku berjanji, Galaxias Tranquillia.”
To be continued...



Bagaimana? Ada yang kurang? Comment! Chapter 3 akan segera datang!
Sebenarnya, waktu nulis Mikuo itu ganteng dan keren, Galaco harus nahan muntah, loh =w=
Masa, orang kaya gitu dibilang ganteng dan keren? =A= //dor
Tapi, demi kelancaran fict, Galaco paksain, deh~

Sore ja, Mata ashita!

♪Galaco!♪

Selasa, 16 April 2013

[Galaco] Karakuri Burst ~Chapter 1

Yo, Minna!
Disini Ruko Galaco. Akhirnya, Galaco boleh pake FB lagi~ #sementara pake FBnya Iro-chan

Anyway, Galaco disini mau membawa sebuah cerita yang Galaco buat sendiri! Judulnya Karakuri Burst. Benar! Cerita ini berdasarkan lagu Karakuri Burst yang diciptakan oleh dua orang yang sangat hebat, yaitu Hitoshizuku dan Yama△. Hanya saja, Galaco pake chara-chara di KBF. Dan cerita disini ada yang semi-asli.

Nah, ayo mulai! 
Karakuri Burst
Story by Galaco
All character belong to the respective owner

Malam yang gelap dan tenang menyapa sebuah Batalyon yang berada di tepi kota Copenhagen. Seorang gadis berpakaian seragam Batalyon itu dan berambut hitam sedikit sedikit kemerahan nampak memandangi bintang di langit dari balkon Batalyon tersebut. Manik coklat kemerahannya memperhatikan pergerakan lambat yang ada di awan. Dirinya hanyut dalam ketenangan yang disediakan alam.

Namun, kehanyutan sang gadis tadi harus dihancurkan oleh salah seorang temannya yang memiliki rambut sedikit aneh. Pirang pucat di bagian kanan, coklat tua di bagian kiri, dan warna merah-biru-kuning di bagian kiri poninya yang berurutan merah-biru-kuning dari kanan. Gadis bersurai coklat dan pirang itu menepuk bahu sang gadis berambut hitam sedikit kemerahan.

Jangan melamun, Yue.”tegur gadis bersurai ganda. “Aku tidak melamun, Galaco.”tukas gadis yang dipanggil 'Yue' atau lengkapnya, Yuezhe Yueliang (Yuezheng Ling). Sementara si gadis bersurai ganda itu terkikik. Menurutku, lebih enak memanggilnya Galaco dari pada 'gadis bersurai ganda' atau nama lengkap aslinya yang terlalu rumit, Galaccious von Scharzigartie (Galaco).

Tapi matamu menunjukkan bahwa kau sedang melamun, kawan.”kilah Galaco. Yuezhe menghela nafas. “Baik-baik. Aku memang melamun.”gumam Yuezhe pelan.
Lagian, kau ngapain disini? Mengganggu orang saja.”gerutu Yuezhe. Galaco tersenyum misterius. “Jendral Kuroneko memanggilmu. Yah, sebenarnya memanggil kita, sih.”terang Galaco. “Jangan bilang kalau aku harus menjalankan satu misi denganmu.”doa Yuezhe. “Sepertinya begitu.”jawab Galaco. Ia kemudian menarik tangan Yuezhe dan membawanya masuk kedalam.
-**-
Yuezhe Yueliang adalah seorang gadis yang berasal dari Cina. Polisi negara Cina menangkapnya saat mereka menemukan seorang gadis sedang berjalan dengan sotoynya di pinggir jalan. Lalu, mereka mengirim gadis yang berandalan ini ke Copenhagen dan menyerahkannya ke Batalyon KBF, Batalyon tempat Yuezhe bekerja sekarang. Sebenarnya, namanya bukan Yuezhe Yueliang, melainkan Dueilei Miangxing. Tapi, demi menghapus masa lalunya yang kelam, Jendral Kuroneko memberinya nama 'Yuezhe Yueliang' atau yang lebih sering dipanggil Yue oleh rekan kerjanya.

Sedangkan Galaccious von Scharzigartie adalah anak dari seorang bangsawan keturunan Jerman-Belanda yang seharusnya hidup di Inggris, tetapi malah nyasar ke Copenhagen karena ia diculik. Semua orang menginginkannya, karena dia memiliki suatu orb bernama Diamond Red yang hanya dimiliki keluarga Scharzigartie. Karena keberadaannya sangat dicari-cari, Galaccious memasuki dunia ke-polisian dan mendapat bagian di Batalyon KBF. Jendral Kuroneko mengganti namanya menjadi 'Galaxias Tranquillia' atau yang lebih enak dipanggil Galaco maupun Gal. Dan mengenai rambutnya yang unik itu, ia berkata bahwa itu adalah rambut aslinya.
-**-
Jadi, ada perlu apa Jendral memanggil kami?”tanya Galaco mengawali percakapan. “Aku ingin kalian mengerjakan suatu misi, yaitu menghapus organisasi Karakuri Eyes.”terang Jendral Kuroneko (96Neko). “K-Karakuri Eyes ?”tanya Galaco. “Benar. Karakuri Eyes. Organisasi pembunuh terhebat sepanjang masa.”terang Jendral Kuroneko.“Apakah hanya kami berdua?”tanya Yuezhe. Nada malas sedikit tersirat di perkataannya. “Tidak. Ada Kim SeeU (SeeU), Gumivien Recens (Gumi Megpoid), Aoki Crystallus (Aoki Lapis), dan masih banyak lagi.”jawab Jendral Kuroneko. Yuezhe mendesah lega. “Tapi, aku sangat yakin. Meski kalian hanya berdua, kalian dapat diandalkan.”sambung Jendral Kuroneko. Yuezhe langsung mendesah kesal. Galaco juga terlihat sedikit kecewa. “Baik, kupikir kalian mengerti. Kalian bisa mengerjakannya besok.”ujar Jendral Kuroneko. Ia mengulum sebuah senyum tipis. Yuezhe dan Galaco memberi hormat. Lalu, keduanya berjalan beriringan ke kamar mereka yang ironisnya, satu kamar diisi dua orang. Lebih ironis, mereka sekamar!

Kau tahu, aku bosan denganmu.”desis Galaco. “Kau kira aku tidak?”tukas Yuezhe. “Tapi demi misi, aku harus mau.”sahut Galaco. Yuezhe tersenyum. “Ya, tentu saja.”gumam Yuezhe. “Kita harus cepat beristirahat, Yue. Aku tak mau besok kita bangun kesiangan.”kata Galaco. Ia segera melesat ke kamar. Meski ia tahu jelas bahwa tak diperbolehkan berlari di koridor, dia tetap nekat. Toh, dia tetap Galaco yang suka menerobos.
-**-
Pagi yang cerah. Berkas-berkas sinar mentari memasuki kamar Galaco dan Yuezhe. Membuat keduanya terpaksa bangun. Setelah membereskan tempat tidur, keduanya langsung memasuki kamar mandi dan membersihkan diri. Perut yang sudah konser menjadi alasan utamanya.

Kaupikir, apa yang akan menjadi menu sarapan pagi ini, Yue?”tanya Galaco sembari memakai kaos kakinya. Yuezhe menatap Galaco. Tangannya tetap aktif mengacing kemeja putih yang senantiasa menemaninya. “Entahlah. Mungkin, Omelet dan Roti?”balas tanya Yuezhe. Galaco tertawa kecil. “Mungkin. Tapi aku mengharapkan beberapa potong Blueberry Roll dan Tempura.”ungkap Galaco. Yuezhe hanya tersenyum kecil.

Galaco menggigit ujung Moon Dumpling bagiannya. Meskipun tak seperti yang ia bayangkan, tapi, ia tetap makan dengan khidmat karena perutnya keroncongan. Sesekali, ia meneguk White Coffee yang juga merupakan bagian dari menu. Sementara itu, Yuezhe sibuk menyantap Moon Dumplingnya. Ia nampak kelaparan sekali.

Gumivien Recens, atau yang lebih sering dipanggil Gumi, tertawa melihat cara makan Yuezhe. “Apa? Ada yang salah?”tanya Yuezhe super-watados. “Cara makanmu, Yue!”celetuk Cul, Culnathene Lockhart (CULnoza). Seketika itu, Yue tersipu dan Galaco tergelak bersama Gumi dan Cul.
Kau tergabung dalam Misi itu, Yue, Gal? Misi... Karakuri Eyes.”bisik Gumi. Yuezhe hanya mengangguk, sementara Galaco terdiam. “Kau sendiri?”tanya Yuezhe. “Aku, Gumi, Yuyu, dan Aria jadi satu kelompok.”jawab Cul. “Yuyu, maksudmu Yuzuka Yukarin (Yuzuki Yukari), cewe Jepang yang suka kelinci itu?”tebak Yuezhe. Gumi mengangguk. “Dan Aria. Maksudmu, IA Aria (IA) yang rambutnya cream panjang itu?”celetuk Galaco pelan, takut orang yang dimaksud mendengarnya. “Tepat sekali.”balas Cul.

Berhati-hatilah. Hanya Calne Black yang selamat dari semua investigasi mengenai Karakuri Eyes.”ingat Gumi. “Tentu.”sahut Galaco. Jiwa pendiam dan seriusnya sudah keluar. Awas, dunia!

Hei, bukankah sebaiknya kita mempercepat sarapan dan menghadap Jendral Kuroneko?”tanya Cul. Galaco, Gumi, dan Yuezhe mengangguk setuju. Ketiganya mempercepat sarapan, hingga sedikit sering tersedak. Sementara Cul memandangi jendela. Ia sudah selesai makan dari tadi.
-**-
Jendral, dimana kami bisa mencari informasi mengenai Karakuri Eyes?”tanya Gumi. “Perlu kalian ketahui,”jawab Jendral Kuroneko. “Organisasi Karakuri Eyes terdapat di seluruh Jerman. Namun, di daerah Copenhagen-lah markasnya.”lanjutnya. Yuezhe mengangguk mengerti. “Pimpinan Karakuri Eyes sekarang ini adalah seseorang dengan nama samaran MEIKO ('W').”timpal Jendral Kuroneko.

Kalian harus berhati-hati.”bisik Jendral Kuroneko. “Dibalik lengan MEIKO, ia menyimpan jutaan tipuan.”lanjutnya. “Baiklah, kalian bisa mengerjakan tugas kalian. Yueliang dan Tranquillia, kalian ke pusat kota Copenhagen. Menyamarlah. Recens dan Lockhart, amankan tepi-tepi kota, aku akan mengirim Aoki Crystallus dan Rinnie Speculene (Rin Kagamine).”titah Jendral Kuroneko. Yuezhe, Galaco, Gumi, dan Cul segera memberi hormat. Keempatnya berlari ke kamar masing-masing untuk persiapan.
-**-
Baik, kurasa kita sudah siap, Yue.”celetuk Galaco sambil merapikan poninya. Ia hanya mengikat rambutnya dan memakai pakaian berupa kemeja dan rok. “Ya. Ayo kita pergi sekarang.”sahut Yuezhe sambil menyambar tasnya. Galaco mengambil tasnya. Keduanya berjalan bersama menuju luar.

Aku ingin bertemu MEIKO.”gumam Yuezhe. “Kau tau, aku ingin memukul wajahnya.”lanjut Yuezhe. Galaco tersenyum. “Aku ingin menembaknya.”desis Galaco. Dendam teramat dalam tersirat di setiap katanya. Kenapa? Karena MEIKO telah membunuh sahabat terdekat SeeU yang kabarnya disukai oleh SeeU sendiri. Piko Summern.

Yang jelas, kita harus segera ke pusat Copenhagen.”
To be continued.... 


Bagaimana menurut Minna? Ada yang kurangkah? Ada yang jelekkah? Jika ada, silahkan komen :) Bakal diperbaiki di Chapter besok!

Mata ashita, minna!

♪Galaco!♪

Sabtu, 13 April 2013

[RIN] UTS

hi, rin-san yang jelek(jelas keren) datang yo!
dah lama udah gak ke blog yo!
besok UTS! NOOOOO! #pundung
hehhe,GANBATTE DESU!

Rin-san